Sejak
dulu tak pernah terlintas situasinya akan seindah ini. Hingga niatan
itu selalu hadir terbayang dalam pikiran, mendorong aku untuk
mengutarakan apa yang terganjal dalam hati. Meski sebelumnya, banyak
hal yang dibicarakan mengenai perubahan diri. Dan memang dalam
lingkup percakapan tentang hal yang ingin dijalani. Terutama soal
masa depan, impian-impian yang ingin segera diwujudkan.
Harapan-harapan yang tidak pernah pupus karena ada senyum yang
menyemangati meski kelemahan diri terkadang manjatuhkan.
Sampai-sampai tidak ada kecanggungan dalam menceritakan. Mempercayai
seiring waktu hingga terciptalah sebuah "kenyamanan".
Sungguh
sedikitpun aku tidak pernah menyesal mengenal dan hadir
dikehidupanmu. Menjadi kawan setia menemani kehidupan duniamu. Sebab
dirimu seperti oase dipagi hari yang selalu memancarkan semangat
dalam hidup, menumbuhkan kesejukkan. Kau menjagaku dengan baik,
melindungiku agar selalu dalam kondisi aman. Dan yang paling aku suka
adalah ada saja kesan yang berbeda setiap kita berjumpa.
Meskipun
buih-buih itu tumbuh namun hati ia meminta untuk dijinakkan,
dihapuskan barang sebentar waktu atau batas yang tidak ditentukan
kapan akan berakhir. Hingga aku memutuskan untuk pergi, menjauhkan
jarak dan segala interaksi yang biasanya terjalin menyapa suasana
hari. Begitu takut pada labuhan berlumur dosa, lalu menyampaikannya
pada tempat yang nista. Justru kita hidup didunia ini hanya untuk
mendapatkan rida Allah bukan? Meski guncangan nafsu begitu dahsyat
lantas hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan sesuatu
yang bukan disyariatkan. Biarlah ia tawadhu pada jiwa yang kuat
menahan nafsu. Menjauhkan jarak yang sempat dekat lalu menata hati
agar tetap terlatih pada hal baik yang kan melekat. Menerima untuk
tidak takut pada sesuatu yang bukan haknya untuk dimiliki. Bukankah
kita menginginkan kebahagian yang diukir dengan cara yang diridonya
menjadi nikmat yang patut disyukuri ?
Hal
yang sulit saat aku mengutarakan, lantas butuh pengumpulan keberanian
untuk menyampaikan apa yang ingin mulut ucapkan. Jiwaku membisu,
pikiranku melayang antara cemas dan takut menghancurkan kebahagiaan
yang sedang dirasa. Dan matapun mulai berbicara dengan derai tanggis
saat ingatan menghampiri. Pada akhirnya, aku memilih untaian kata
yang terangkai begitu hati-hati dalam setiap kalimat yang mewakili
lidah berbicara. Disisi lain berusaha melapangkan hati, meluaskan
pikiran untuk hal yang sebentar lagi terjadi. Apapun resiko yang akan
menghampiri nanti.
Dan
pada akhirnya, aku memahami. Sesuatu yang ingin dijalani membutuhkan
proses yang dinikmati. Bukan karena tidak bisa selagi mau berusaha.
Sebab hal yang diperjuangkan pasti akan menghantarkan dirimu pada
wujud sebuah impian. Kebahagian itu akan tiba suatu hari nanti. Kita
seperti bunga-bunga yang baru saja kuncup untuk mekar. Bertabur indah
dan harum menghiasi taman-taman. Ia akan menjadi hadiah terindah bagi
orang-orang yang bersabar.
Ketika
kita mengambil keputusan dengan melibatkan-Nya lalu melepaskan
sesuatu yang kita senangi karena alasan syarI, maka jangan takut.
Percayalah sebab Allah akan menggantinya untukmu bahkan yang
berlebih.
Saat
ini, biarlah kamu menyelesaikan egomu. Menapaki kehidupan mencari
"jati diri" mengenai dirimu. Saat ini, biarlah kamu
mengistiqomahkan langkah itu. Meyudahi segalanya yang pernah
tersimpan rapih dilubuk hati. Meski tidak mudah. Akan ada banyak
hasutan menyapa diri saat kerinduan menjelma. Kegoncangan hati yang
mungkin tidak bisa dibendung lagi selain memikirkannya dengan nalar
yang jernih. Maka ketika yakin, pasti segalanya akan baik-baik saja.
Tidak usah getir dengan apapun yang akan terjadi dihari esok nanti.
Sebab kau memilih sesuatu bukan karena kemauanmu melainkan keharusan
untuk merubah takdir agar tetap kembali sejalan pada hakikatnya kau
diciptakan.
Bantulah
aku untuk menjaga kehormatanku. Menjadikan diriku agar tetap seperti
BERLIAN yang mahal dan tidak sembarangan orang menyentuhnya. Aku
ingin seperti matahari yang silaunya mampu menundukkan sebelum mata
memandangnya. Namun cahayanya memberikan manfaat besar pada kehidupan
semua makhluk dibumi-Nya.
Jika
nanti dipertemukan, aku hanya ingin berkata selamat, kamu telah
berhasil. Berhasil melawan dirimu sendiri. Sehari, seminggu,
berbulan-bulan bahkan hitungan tahun. Kita sudah membuktikannya bahwa
kita mampu, kita bisa menjalaninya walau harus merintih kesakitan
dalam kesendirian, kesunyian yang selalu menjadi teman namun kau
hebat, laki-laki terhebat yang aku temui dalam kisah indah perjalanan
hijrahku.
Dan
kini hati sudah ikhlas menerima. Bahagia menjalankannya. Menggantinya
dengan kesibukan pembenahan diri. Tidak ada lagi kesedihan bahkan
hal yang perlu dikhawatirkan karena sudah dipercayakan pada Sang
Pengatur Kehidupan.
Terus
berjuang.
Caringin,
17 Juni 2016
Siti
Aisyah
Komentar
Posting Komentar